Tips Mengatasi Hustle Culture dan Toxic Productivity

Tips Mengatasi Hustle Culture dan Toxic Productivity

Hustle Culture, yang juga dikenal sebagai burnout culture, berpusat pada gagasan bahwa bekerja berjam-jam dan mengorbankan waktu untuk diri sendiri diperlukan untuk meraih kesuksesan. Janjinya adalah jika memberikan seluruh perhatian pada pekerjaan, Anda dapat mencapai apa pun dan segalanya.

Fenomena hustle culture sudah ada sejak 1970-an dan telah menyebar sangat cepat, terutama pada generasi milenial.

Sebagai pekerja, tanpa sadar kita sering memaksakan waktu dan kondisi fisik kita untuk bekerja amat keras demi mencapai target. Padahal, seharusnya kita lebih peduli dengan kesehatan fisik dan mental dengan meluangkan waktu yang cukup. Ini harus diperhatikan karena terkait Hustle Culture atau Toxic Productivity.

Toxic productivity merupakan situasi kecanduan bekerja. Banyak orang berlomba-lomba menjadi produktif, entah karena tuntutan pekerjaan atau pun tuntutan lingkungan sekitar.

Hal ini tak jarang memaksa seseorang melakukan beberapa kegiatan, mengabaikan kondisi kesehatan,  atau tidak meluangkan waktu untuk diri sendiri. Selain itu, apabila sering merasa bersalah saat sedang sendiri dan tidak pernah puas, sudah pasti kamu sedang mengalami toxic productivity.

Jika mengalami kondisi tersebut, kamu sudah terjebak toxic productivity. Tidak ada salahnya jika kamu melakukan kegiatan yang produktif, namun jangan berlebihan. Jika kamu merasa lelah, sebaiknya beristirahat terlebih dahulu.

Pengertian Hustle Culture dan Toxic Productivity

Hustle culture adalah keadaan bekerja terlalu keras hingga menjadi gaya hidup. Dengan kata lain, tiada hari tanpa bekerja, sampai-sampai kamu tak lagi memiliki waktu untuk kehidupan pribadi.

Baca :   Executive Search : Strategi Efektif Mencari Pemimpin

Hustle culture sudah seperti nilai atau budaya yang diyakini individu bahwa aspek terpenting dalam hidupnya adalah bekerja. Hal ini membuat mereka akan terus bekerja tanpa peduli waktu dan tempat.

Hustle culture menghadirkan pemikiran bahwa hal terpenting dalam hidup adalah mencapai tujuan dalam pekerjaan dengan bekerja keras tanpa henti.

Sedangkan Toxic Productivity adalah mendorong diri sendiri atau orang lain untuk bekerja ekstrem dan terus-menerus demi kesuksesan, tanpa peduli kesehatan fisik, emosional, dan mental.

Baik Hustle culture maupun Toxic Productivity berdampak negatif pada keseimbangan kerja-kehidupan, kesehatan mental, dan hubungan sosial.

Orang dengan toxic productivity tidak pernah puas dengan hasil kerja mereka, merasa bersalah jika beristirahat atau berhenti bekerja, dan mengabaikan tanda-tanda kelelahan dan stres yang dapat mengarah pada burnout.

Toxic productivity berkaitan dengan workaholic dan hustle culture. Workaholic sendiri merupakan individu yang memiliki kecenderungan untuk bekerja secara berlebihan dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk bekerja.

Mereka merasa cemas atau tidak nyaman jika tidak bekerja dan mungkin menggunakan pekerjaan sebagai bentuk pelarian dari masalah atau tuntutan lain dalam kehidupan mereka.

Meski ada tumpang tindih istilah, seorang workaholic tidak selalu mencari pengakuan atau dorongan dari lingkungan kerja yang menyebabkan stres, seperti halnya toxic productivity.

Baca :   Mengapa Skeptisisme Terhadap Keberlanjutan? Cek Mitos atau Fakta

Kemudian, hustle culture sendiri adalah budaya atau pandangan yang memuja dan mendorong seseorang untuk bekerja tanpa henti, mengorbankan waktu, kesehatan, dan kehidupan pribadi untuk mencapai kesuksesan finansial atau karier.

Meskipun hustle culture dapat mendorong tercapainya tujuan, namun jika dijalankan tanpa keseimbangan dan perhatian pada kesehatan mental dan fisik, dapat menyebabkan burnout dan dampak negatif lainnya pada kesejahteraan individu.

Cara Mengatasi Hustle Culture

Susunlah rencana untuk melakukan kegiatan selain bekerja, seperti liburan atau lainnya. Selain itu, coba fokus pada pencapaian dan kurangi membandingkan diri dengan orang lain karena membandingkan diri dengan orang lain akan menjadi stresor untuk diri sendiri.

Intinya, agar kamu tidak terjebak pada hustle culture, hal yang mesti dilakukan adalah dengan menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaanmu.

Jika telanjur mengalami burnout, disarankan untuk konsultasi ke psikolog sebelum memberikan dampak pada aspek lain dalam kehidupan.

Cara Mengatasi Toxic Productivity

1. Membuat Target yang Realistis

Ketika kamu menentukan tujuan, jangan terlalu muluk agar tidak terjebak di dalam toxic producticity. Buatlah target sesuai dengan kemampuan dan jangan jadikan orang lain sebagai tolok ukur. Kemampuan tiap orang berbeda. Ingatlah bahwa produktivitas bukanlah lomba.

2. Mengingat Pentingnya Istirahat

Baca :   Tips Personal Branding Untuk Pemimpin Modern

Jangan sampai istirahat kamu tidak optimal karena dapat menggangu hal lain. Jika harus melakukan aktivitas yang cukup padat, kamu juga harus istirahat yang cukup.

3. Mindfulness

Mindfulness atau perhatian adalah salah satu cara agar kita terhubung dengan momen saat ini dan menerima keadaan yang sedang terjadi. Dengan mindfulness, kita bisa mengetahui keinginan dan kebutuhan diri sendiri.

Selain itu, mindfulness baik untuk kesehatan dan dapat meningkatkan kemampuan berpikir, serta dapat memahami apa yang dibutuhkan.

4. Tinggalkan Budaya Hustle Culture

Kamu harus mencari tahu keinginan kamu. Hustle culture menganggap bahwa makin keras kamu bekerja, kamu akan makin sukses. Namun, anggapan tersebut membuat kamu terjebak toxic productivity. Sehingga, kamu harus berani meninggalkan budaya tersebut.

5. Jangan Lupa Self-care

Meski terdengar sepele, self care sama pentingnya dengan tugas yang kamu kerjakan. Dengan begitu, kamu dapat berpikir lebih jernih dan terjebak dari toxic productivity.

Itu dia beberapa tanda dan tips untuk mengatasi Mengatasi Hustle Culture dan Toxic Productivity. Jangan sampai produktivitasmu menjadi racun bagi hidupmu ya, semoga bermanfaat 🙂

#Hustle Culture

#Toxic Productivity

#mengatasi Toxic Productivity

#mengatasi Hustle Culture

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Article