Kisah Jöerg G. Bucherer: Menjual Bisnis Keluarga, Perlukah?

Kisah Jöerg G. Bucherer: Menjual Bisnis Keluarga, Perlukah?

Menjual Bisnis Keluarga, Perlukah? Selama lebih dari satu abad, tiga generasi keluarga Bucherer membangun salah satu peritel jam tangan dan perhiasan paling eksklusif di dunia, menjual jam tangan mahal dan permata berkilauan kepada orang kaya dan terkenal di dunia. Namun menurut kabar terakhir, Jöerg G. Bucherer, chairman di balik bisnis jam tangan dan perhiasan tersebut, setuju untuk menjual Bucherer ke Rolex, produsen terkenal jam mewah asal Swiss. Tidak disebutkan secara detail isi kesepakatan penjualan ini. Menarik kesimpulan juga tak mudah karena tidak ada perusahaan yang berbasis di Swiss yang mempublikasikan laporan keuangannya.

Keputusan Jöerg G. Bucherer, yang berusia lebih dari 80 tahun, untuk menjual bisnis keluarganya mengejutkan sesama pelaku industri. Bucherer memulai kiprahnya pada 1888 tatkala Carl-Friedrich Bucherer dan istrinya, Luise, membuka toko di Lucerne, Swiss. Demikian menurut situs resmi perusahaan. Putra mereka, Ernst dan Carl Eduard, bergabung degan perusahaan pada awal 1920-an. Jeorg, generasi ketiga, mengambil alih manajemen pada 1977. Ia berekspansi ke Austria pada 1980-an,serta Jerman satu dekade berikutnya. Bucherer membuka toko utama di Paris pada tahun 2013 dan juga di London, Kopenhagen, dan Amerika Serikat. Joerg tak perah diwawancarai oleh media. Namanya hanya disebut sedikit di situs perusahaan. Maklumlah, ia memiliki karakter yang tertutup.

Bagi seorang pemilik bisnis, keputusan untuk menjual bisnis yang telah susah payah dibangun bukanlah hal mudah. Keadaan menjadi lebih rumit tatkala yang dijual itu adalah bisnis keluarga, seperti Bucherer. Keputusan untuk menjual bisnis keluarga acap kali bukan berdasarkan pertimbangan finansial semata. Faktor emosional turut menjadi penentu, berupa ancaman hilangnya kebanggaan dan tradisi keluarga, yang telah dibangun melalui kerja keras bertahun-tahun. Oleh karena itu, ide untuk menjual bisnis jsering kali tidak terpikirkan oleh keluarga. Bagi sebagian orang, ini sama saja dengan meninggalkan keluarga.

Baca :   Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat) : Wajib atau Sukarela?

Meski demikian, adakalanya hal tersebut mau tak mau harus dilakukan. Jika keluarga tidak mampu lagi mengelola bisnisnya secara produktif, tentu harus dipertimbangkan untuk menjualnya. 

Ada sejumlah faktor yang dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk menjual atau mempertahankan bisnis di tangan keluarga. Faktor-faktor  tersebut, menurut Davis dan Pellegrin, adalah finansial, kinerja, kepemilikan, kepemimpinan dan keluarga.

Untuk faktor finansial, keinginan  mengambil untung dari kenaikan harga atau penawaran menarik dari pihak lain, keinginan untuk memonetisasi nilai bisnis, dan kebutuhan dana untuk merambah bisnis lainnya bisa mendorong bisnis keluarga melepas kepemilikannya.

Kinerja bisnis juga dapat dasar keputusan bisnis keluarga untuk menjual kepemilikannya jika mereka yakin akan sulit mempertahankannya di masa depan, misalnya karena perusahaan bergerak dalam industri yang siklus hidupya (lifecycle) sudah menurun. Namun jika kinerja dan pertumbuhan bisnis menguat dan pada saat bersamaan keluarga dan manajemen yakin mampu memperbaiki dan mempertahankan kinerja bisnis untuk jangka panjang, kemungkinan kepemilikan akan dipertahankan. 

Dari sisi kepemilikan, penjualan bisnis keluarga bisa jadi jalan terbaik dan pilihan terakhir guna mengatasi konflik keluarga. Bisa pula faktor kepentingan pribadi, dari beberapa pemilik, menempatkan kepentingannya sendiri di atas kepentingan keluarga

Baca :   Mengarungi Ethical Leadership yang Sarat Dilema

Sejarah kepemimpinan yang panjang dari keluarga dan kuatnya keterlibatan keluarga dalam manajemen menjadi alasan utama dipertahankannya kepemilikan bisnis oleh keluarga. Sebaliknya, jika tidak ada lagi kepemimpinan keluarga, bisnis kemungkinan akan dijual. Inilah agaknya yang menjadi alasan Bucherer menjual bisnisnya ke Rolex. Jöerg Bucherer tak punya anak untuk meneruskan kerajaan bisnisnya.

Yang paling kompleks adalah pertimbangan keluarga. Dari kelima faktor tersebut, sesuai namanya bisnis keluarga, faktor keluargalah yang paling menentukan. Faktor-faktor seperti keluarga yang tak lagi tertarik dengan bisnis perusahaan (terutama generasi muda, yang banyak tidak menyukai jam kerja yang panjang, bahkan tak tertarik dengan dunia bisnis dan korporasi), kebutuhan keluarga akan likuiditas, dan citra keluarga yang justru akan meningkat dengan lepasnya bisnis akan memotivasi keluarga untuk menjual bisnisnya. Sedangkan ikatan emosional yang kuat terhadap bisnis, ketertarikan generasi muda terhadap produk dan jasa perusahaan, strategisnya peran perusahaan terhadap status keluarga, dan ketakutan akan rusaknya citra keluarga jika perusahaan dijual akan memaksa perusahaan mempertahankan kepemilikannya.

Jika benar-benar ingin menjual bisnis keluarga, perlu mempertimbangkan waktu yang tepat. Kapankah itu? Pertama, jika daur hidup produk bisnis keluarga mulai menurun. Apa artinya? Segala keterampilan, kompetensi, teknologi, dan manajemen perusahaan harus dikaji kembali. Di samping itu, dibutuhkan sumber daya baru, mulai dari manusia, keuangan,  peralatan, teknologi, dan sebagainya. Petanyaannya, apakah bisnis keluarga mau dan mampu mengatasi isu tersebut? Jika tidak, opsi untuk menjual bisnis bisa dipertimbangkan. Berikutnya, terkait dinamika keluarga. Seperti dipahami keluarga senantiasa mengalami perkembangan, baik dari segi minat, keterampilan, dan juga prioritas. Dampaknya, bisnis keluarga tak lagi menjadi yang diutamakan.

Baca :   Pengertian Productivity Paranoia : Bila Tidak Saling Percaya

Bagaimanakah jika keluarga tetap ingin mempertahankan kepemilikannya, sementara pada saat yang sama tak ada anggota keluarga yang punya kemampuan? Dalam hal ini, keluarga dapat menyerahkan pengelolaan bisnisnya kepada pihak lain (baca:profesional). Pilihan lainnya adalah keluar dari industri yang selama ini digeluti, untuk kemudian membangun bisnis yang berbeda. Berikutnya, menjual sebagian kepemilikan saja, tak perlu semuanya. Dengan demikian, keluarga masih memiliki suara meski tdak lagi penuh.

Memang tidak salah menjual bisnis keluarga jika memang itu pilihan terbaik berdasarkan pertimbangan yang matang. Bagaimana pun, idealnya sebuah bisnis keluarga tetaplah berada di tangan keluarga, jika memungkinkan. Di samping sebagai kebanggaan keluarga, segala budaya, tradisi, dan praktik baik bisa dilestarikan sehingga berkontribusi nyata bagi masyarakat. Sesuatu yang belum tentu diteruskan oleh pemilik baru.

#menjualbisniskeluarga

#bucherer     

#rolex

#faktorfinansial

#bisniskeluarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait