Bisnis Keluarga : Ketika Karyawan Menolak Sang Penerus

Bisnis Keluarga : Ketika Karyawan Menolak Sang Penerus

Di balik kisah sukses bisnis keluarga (family business), sering kali tersembunyi gejolak transisi kepemimpinan. Peralihan tongkat estafet dari generasi pendiri kepada penerus tak jarang menemui hambatan, salah satunya penolakan dari karyawan.

Meski orangtua disegani, tak lantas anak mendapat penghormatan yang sama. Alasan orang hormat kepada generasi senior jelas: prestasi. Berkat mereka, bisnis menjadi besar. Dampak positif terhadap masyarakat jelas terasa. Sedangkan sang anak?

Bisnis Keluarga : Ketika Karyawan Menolak Sang Penerus

Penolakan karyawan terhadap kepemimpinan generasi penerus dalam bisnis keluarga dapat bersumber dari berbagai faktor, seperti keraguan karyawan terhadap kemampuan penerus dalam memimpin perusahaan; penerus belum punya visi yang jelas; penerus memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda  dengan pendahulunya, yang mungkin tidak disukai atau belum dipahami oleh karyawan; kurangnya komunikasi dan transparansi dari generasi penerus sehingga menimbulkan spekulasi dan rasa tidak aman di kalangan karyawan

Dalam bisnis keluarga, dinamikanya seringkali lebih kompleks dibandingkan bisnis non-keluarga. Generasi muda, biasanya penerus bisnis, mungkin menghadapi skeptisisme atau penolakan dari karyawan yang setia kepada generasi sebelumnya. Skeptisisme ini dapat terwujud dalam bentuk penolakan terhadap ide-ide baru, penolakan terhadap perubahan, atau kurangnya rasa hormat terhadap otoritas pemimpin muda.

Tugas generasi mudalah untuk membuktikan kemampuannya, bukannya menuntut orang lain agar semata-mata memercayai mereka. Langkah pertama dan utama adalah membangun kredibilitas. Kredibilitas berasal dari tiga hal: pendidikan dan pelatihan, pengalaman, dan rekam jejak (track record). Ketiganya harus ada.

Memang, banyak orangtua mengirim anaknya belajar ke universitas-universutas terbaik di luar negeri. Namun, itu tidaklah cukup. Memperoleh pengalaman dengan bekerja di berbagai peran dalam bisnis dapat memberikan pemahaman komprehensif tentang operasi dan membangun hubungan baik dengan karyawan. Di samping itu, menunjukkan kesuksesan dalam proyek atau inisiatif, meski dalam skala kecil, dapat mendongkrak kredibilitas penerus di mata karyawan.

Baca :   Kepemimpinan Laissez Faire Dalam Memimpin Gen Z

Memahami alasan di balik penolakan sangatlah penting. Bagaimanakah cara mengetahuinya? Dengan mendengarkan secara aktif, tentang concern karyawan,  memahami perspektif mereka, serta mengatasinya dengan cara yang elegan.

Visi yang jelas dan menarik untuk masa depan bisnis dapat membantu menyelaraskan karyawan dengan tujuan generasi muda. Jika tertarik, karyawan siap memberi dukungan.

fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi. Generasi muda harus siap untuk menyesuaikan rencana dan pendekatan mereka berdasarkan masukan dari karyawan. Di samping itu, menerapkan perubahan, meski dalam skala kecil, dapat menunjukkan manfaat dari ide-ide baru tanpa menimbulkan disrupsi yang signifikan.

Menerapkan budaya perbaikan berkelanjutan di mana kesalahan dipandang sebagai kesempatan belajar dapat mendorong karyawan untuk lebih terbuka terhadap perubahan dan mengurangi rasa takut akan penolakan.

Hubungan interpersonal yang erat menjadi kunci kesuksesan bisnis keluarga. Generasi muda harus fokus membangun dan membina hubungan ini dengan karyawan. Mengakui serta menghargai kontribusi karyawan akan menciptakan lingkungan kerja yang positif.

Mentorship dapat menjembatani kesenjangan generasi. Penerus dapat belajar dari pengalaman karyawan senior, sekaligus memberikan perspektif dan bimbingan baru kepada karyawan baru.

Menjinakkan Penolakan Perubahan: Strategi Jitu Menuju Transisi Lancar

Baca :   Executive Assessment : Cara Meningkatkan Kesesuaian Kepemimpinan

Namanya juga perubahan. Sebaik apapun dikelola, resistensi tetap ada. Menangani penolakan tersebut dengan profesionalisme dan perencanaan strategis sangatlah penting. Bagaimanakah caranya?

Pertama, mengidentifikasi motor penolakan, untuk kemudian mengatasinya. dapat membantu memitigasi penolakan yang meluas. Orang-orang ini sering kali memiliki pengaruh yang signifikan terhadap rekan-rekan mereka. Berikutnya, meilibatkan karyawan yang disegani sekaligus pendukung visi generasi penerus. Harapannya tentu sang karyawan ini dapat memengaruhi orang lain. Jangan lupa bahwa penolakan senantiasa menjadi bibit konflik. Menerapkan strategi resolusi konflik untuk mengatasi perselisihan dan menemukan solusi yang dapat diterima bersama dapat mencegah masalah kecil berkembang menjadi konflik besar.

Ada kisah menarik dari Salvatore Ferragamo S.p.A.,rumah mode mewah Italia yang berfokus pada pakaian, alas kaki, dan aksesori yang berkantor pusat di Florence, Italia.Selama beberapa dekade, bisnis ini tumbuh menjadi kekuatan global, yang terkenal dengan keahlian dan inovasi berkualitas tinggi dalam alas kaki dan fesyen. Perusahaan ini tetap menjadi milik keluarga dan kini berada pada kepemimpinan generasi ketiga. James Ferragamo, cucu pendiri, adalah bagian dari tim kepemimpinan saat ini, yang membawa ide-ide segar dan pendekatan modern bagi Perusahaan.

Ketika mengagas integrasi teknologi digital canggih dan memperluas kehadiran merek-merek perusahaan di e-commerce, James Ferragamo menghadapi penolakan keras dari karyawan lama. Para karyawan ini terbiasa dengan metode tradisional ritel mewah di dalam toko dengan high touch. Mereka ragu terhadap peralihan digital, karena khawatir hal tersebut akan melemahkan warisan merek dan mengurangi layanan pelanggan secara personal.

Baca :   Tips Personal Branding Untuk Pemimpin Modern

Namun, James tak menyerah. Berbekal gelar MBA dari Universitas New York sekaligus pengalaman menangani merek-merek mewah di Perusahaan lain, ia berbagi wawasan tentang bagaimana merek-merek mewah lainnya berhasil mengintegrasikan strategi digital tanpa mengacak-acak legasi perusahaan.

James bekerja sama dengan berbagai departemen, mulai dari desain hingga penjualan, untuk memahami alur kerja berikut tantangan-tanangannya. Berkat hal ini, karyawan mulai hormat padanya. Mereka bahkan memberinya pandangan holistik tentang operasi bisnis. Tak sampai di situ, James turut memelopori proyek percontohan untuk meningkatkan pengalaman belanja online untuk lini produk tertentu. Inisiatif ini menghasilkan peningkatan penjualan online sebesar 30 persen untuk lini tersebut, memberikan bukti nyata tentang manfaat integrasi digital.

James mengakui keterikatan karyawan terhadap metode tradisional dan ketakutan mereka terhadap hal-hal baru. James menekankan bahwa tujuannya adalah untuk melengkapi, bukan menggantikan, layanan pelanggan yang dipersonalisasi yang merupakan ciri khas Ferragamo.

Melalui strategi ini, James berhasil mengintegrasikan teknologi digital canggih ke dalam Salvatore Ferragamo, sehingga secara signifikan meningkatkan kemampuan e-commerce dan pengalaman pelanggan. Citra Perusahaan sebagai penjual barang-barang mewah juga terjaga.Karyawan secara bertahap beradaptasi dengan teknologi baru, dan perusahaan melestarikan warisannya sambil merangkul inovasi modern.

Kategori: Family Business

#bisniskeluarga

#familybusiness #penerus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait