Ini kisah I Nengah Natyanta, pendiri sekaligus pemilik Coco Group.
Dia mengawali bisnisnya dari nol, dimulai dengan sebuah toko kecil di Jalan Taman Griya Nusa Dua, Kecamatan Kuta Selatan, Badung tahun 2006. Dari situ, bisnis ritelnya bisa berkembang seperti sekarang.
Ia dulunya hanya karyawan biasa di Hotel Grand Hyatt Bali selama 12 tahun, yaitu 1992-2004. Enam tahun ia menjadi skuad dan enam tahun berikutnya menjadi waiter. Kehidupan karyawan hotel tak seglamor kehidupan para tamunya. Pada 1998, istri Natya menyarankan supaya mereka merintis bisnis sendiri. Mereka pun membuka toko kecil yang kelak menjelma menjadi Coco Group.
Perjalanan Coco Group
Pada tahun 2002, Natya membuka restoran bernama Coco Bistro. Alasan pemberian nama tersebut cukup sederhana. Di restoran itu ia berjualan es kelapa muda (coconut). Namun, serangan Bom Bali II di Kuta (Kecamatan Kuta, Badung) dan Kelurahan Jimbaran (Keacamat Kuta Selatan, Badung), 1 Oktober 2005, membuat usaha bisnis Natyanta sempoyongan. Meski demikian, Natyanta tak patah arang.
Bisnis pariwisata di Bali naik turun, sehingga ia memutuskan keluar dari hotel dan fokus berwirausaha. Bisnis Natya ternyata berjalan bagus. Pada 2006, Natya dan istri memberanikan diri mendirikan outlet Coco Mart pertama. Modal awalnya hanya Rp 15 juta. Modal itu didapat dari gaji dan uang tip yang Natya kumpulkan selama bekerja di hotel. Sejak itu, Natya terus memetakan bisnis yang berkembang sampai sekarang.
Pilihan Natyanta ternyata tidak keliru. Sebab, Coco Mart yang dirintisnya tersebut berkembang pesat. Natyanta pun terus melakukan perluasan usaha, hingga bisnis ritelnya kini berkembang menjadi ratusan outlet yang tersebar di seluruh Bali hingga NTB, dengan mempekerjakan lebih dari 2000 karyawan.
Coco Mart adalah bagian dari Coco Group. Perusahaan ini berkomitmen untuk menyediakan produk berkualitas dengan harga terjangkau, serta memberikan pengalaman belanja yang nyaman bagi pelanggan. Konsep yang diusung adalah “Murah, Lengkap, dan Nyaman,” mencerminkan harga yang bersahabat, kelengkapan produk, dan kenyamanan dalam berbelanja.
Selain Coco Mart, Coco Group juga mengelola unit bisnis lain seperti Coco Express, Coco Supermarket yang tersebar di berbagai lokasi strategis di Bali. Coco Group menawarkan kesempatan bagi masyarakat untuk memiliki dan mengoperasikan outlet Coco Mart melalui program kemitraan, dengan dukungan penuh dalam hal merek, jaringan pemasok, dan teknologi informasi.
Di samping itu, ada pula bisnis hotel dan vila serta layanan distribusi. Mengutip Coco Group Bali, pertumbuhan ini menjadi bukti nyata bahwa dengan komitmen, ketekunan, dan nilai-nilai integritas yang kuat, bisnis lokal Bali mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
Filosofi Kepemimpinan

Sebagai pendiri, I Nengah Natyanta dikenal sebagai sosok pemimpin yang visioner dan inovatif. Ia memiliki kemampuan manajerial yang kuat dalam mengembangkan strategi bisnis serta memastikan setiap lini usaha Coco Group berjalan dengan efisien, modern, dan berorientasi pada pelayanan terbaik bagi pelanggan. Di bawah arahannya, perusahaan terus beradaptasi terhadap perkembangan zaman, menerapkan sistem manajemen yang profesional, serta menjunjung tinggi standar mutu dan kepercayaan konsumen.
Sementara sang istri, Ni Ketut Siti Maryati memainkan peran penting dalam memperkuat pondasi perusahaan melalui pendekatan humanis dan berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia. Ia yakin kesuksesan perusahaan berawal dari kesejahteraan dan loyalitas karyawan. Oleh karena itu, berbagai program pelatihan, pemberdayaan tenaga kerja lokal, serta kegiatan sosial menjadi fokus yang terus dikembangkan di bawah kepemimpinannya.
Kedua pendiri ini memiliki filosofi yang sama: bisnis bukan hanya tentang keuntungan, melainkan juga tentang kontribusi dan tanggung jawab sosial. Coco Group Bali tumbuh dengan semangat untuk mendukung kemajuan daerah, memperkuat ekonomi lokal, serta menjadi wadah bagi generasi muda Bali untuk berkembang melalui kesempatan kerja dan pembelajaran berkelanjutan.
Paradoks
Bali adalah paradoks. Di satu sisi, ia menawarkan peluang ekonomi luar biasa melalui pariwisata. Di sisi lain, ketergantungan pada faktor eksternal—wisatawan asing, isu keamanan, pandemi, hingga krisis global—menjadikannya wilayah bisnis yang sangat rentan terhadap guncangan.
Natyanta memahami paradoks ini bukan dari buku teks, melainkan dari pengalaman langsung sebagai karyawan hotel selama lebih dari satu dekade. Ia melihat sendiri betapa gemerlap industri hospitality tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan pekerjanya. Dari sinilah muncul benih kesadaran penting: stabilitas ekonomi tidak bisa hanya bergantung pada pariwisata elit.
Keputusan untuk keluar dari pekerjaan hotel dan membangun Coco Group dari nol bukan semata keberanian personal, melainkan tindakan strategis untuk keluar dari jebakan ketergantungan struktural.
Banyak narasi menyebut Coco Mart lahir dari ketekunan dan keberanian. Hal ini tentu benar. Namun yang jarang dibahas adalah ketepatan pilihan model bisnisnya.
Peralihan dari restoran (Coco Bistro) ke convenience store lokal mencerminkan pemahaman mendalam atas perilaku pasar Bali: Pariwisata bersifat musiman dan fluktuatif. Kebutuhan harian masyarakat lokal bersifat konstan. Ritel kebutuhan dasar lebih tahan krisis dibanding hospitality.
Bom Bali II tahun 2005 sering diposisikan sebagai ujian mental. Padahal, ia juga berfungsi sebagai “shock test” terhadap model bisnis. Banyak pelaku hospitality tumbang. Coco Mart justru lahir setelahnya—sebuah sinyal bahwa Natyanta tidak sekadar bertahan, tetapi belajar dari krisis. Di sinilah Coco Mart menjadi lebih dari toko: ia adalah jawaban struktural atas ketidakpastian ekonomi Bali.
“Murah, Lengkap, Nyaman”: Sederhana tapi Disiplin
Slogan Coco Mart terdengar generik. Namun dalam praktik ritel, kesederhanaan justru menuntut disiplin organisasi yang tinggi. Murah berarti efisiensi rantai pasok. Lengkap berarti manajemen inventori yang rapi. Nyaman berarti konsistensi layanan lintas outlet.
Peran Ni Ketut Siti Maryati dalam kisah ini bukan sekadar pelengkap. Ia merepresentasikan keseimbangan kepemimpinan yang sering absen dalam bisnis yang tumbuh cepat.
Jika Natyanta berperan sebagai pengambil arah strategis dan ekspansi, maka pendekatan humanis terhadap karyawan menjadi fondasi stabilitas internal. Dalam organisasi ritel yang padat karya, loyalitas karyawan bukan slogan moral—melainkan aset operasional.
Namun, tantangan terbesar justru terletak di sini: bagaimana menjaga pendekatan “keluarga besar” ketika skala organisasi semakin kompleks? Inilah dilema klasik bisnis lokal yang naik kelas: nilai kekeluargaan versus tuntutan profesionalisme. Coco Group sejauh ini mampu menavigasi ketegangan tersebut, tetapi risikonya tetap nyata.
Lebih dari Kisah Sukses
Jika kisah ini hanya dibaca sebagai cerita inspiratif, kita kehilangan esensi terpentingnya. Coco Group dan Hotel Natya menawarkan beberapa pelajaran pentingL
- Kewirausahaan adalah soal membaca struktur risiko, bukan sekadar keberanian.
- Bisnis lokal bisa tumbuh besar jika mampu keluar dari ketergantungan tunggal.
- Nilai budaya adalah kekuatan, tetapi harus diterjemahkan ke dalam sistem.
- Pertumbuhan cepat menuntut transisi kepemimpinan dari intuitif ke institusional.
#Coco Group #I Nengah Natyanta #Bali #bisnis pariwisata #Coco Mart #visioner #inovatif #pengembangan sumber daya manusia #perilaku pasar #ritel #kepemimpinan #profesionalisme
Related Posts:
Ketika Talenta Unggul Berhenti Tumbuh, Kesalahan Individu atau Sistem?
Sejauh Mana Tanggung Jawab Pemimpin Saat Kinerja Perusahaan Turun?
Sejauh Manakah Job Enlargement Menguntungkan Karyawan?
Leadership di Era Asynchronous Work dan Dampaknya pada Work Life Balance
Tantangan Kepemimpinan: Seni Memimpin Mantan Atasan








