Antara Karier Korporat dan Pekerjaan Kasual: Sampai Kapan Gen Z Bertahan di Jalur Fleksibel?

Antara Karier Korporat dan Pekerjaan Kasual: Sampai Kapan Gen Z Bertahan di Jalur Fleksibel?

Selama bertahun-tahun, peta jalan sukses berkarier terbilang mudah ditebak. Seseorang menamatkan pendidikan tinggi, melamar posisi tetap di perusahaan, meniti jenjang karier organisasi, lalu menikmati masa pensiun setelah mengabdi  puluhan tahun. Akan tetapi, pola tersebut kini mulai terusik, terutama di kalangan Generasi Z. Daripada langsung terjun ke dunia korporasi untuk bekerja dalam waktu lama, tidak sedikit anak muda yang kini memilih bekerja dengan sistem fleksibel, menjadi pekerja lepas, atau mengandalkan proyek-proyek temporer yang memberi mereka ruang gerak lebih leluasa.

Yang menarik, beberapa ladang penghasilan baru ini tidak main-main keuntungannya. Saat gelaran besar seperti konser The Script atau konser BTS berlangsung, misalnya, banyak anak muda meraup pemasukan cukup besar dari jasa pembelian barang untuk para penggemar yang tak bisa datang atau malas mengantre. Biaya jasa yang mereka kenakan terkadang mampu menyamai, bahkan melampaui, gaji bulanan karyawan pemula di kantoran. Walaupun kasus ini cuma satu dari sekian banyak, fenomena ini cukup mewakili pergeseran cara pandang Gen Z terhadap pekerjaan, penghasilan, dan kesuksesan.

Jadi, pertanyaan bagi perusahaan saat ini bukan lagi sekadar apakah Gen Z menginginkan fleksibilitas. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: berapa lama mereka bertahan dengan status pekerja kasual sebelum akhirnya memutuskan kembali—atau barangkali tidak pernah sama sekali—ke jalur karier korporat yang konvensional?

Status Kasual Bukan Lagi “Pilihan Sementara”

Dulu, pekerjaan kasual sering dianggap sebagai pilihan sementara sembari menunggu pekerjaan tetap. Namun kini, status tersebut justru menjadi opsi yang dipilih secara sadar oleh banyak generasi Z.

Kehadiran platform digital secara signifikan telah mengurangi hambatan untuk memulai usaha sendiri. Hanya dengan ponsel, jaringan internet yang kuat dan stabil, dan akun media sosial, seseorang sudah bisa mendulang uang. Mulai dari berjualan daring, membuat konten, mengelola komunitas virtual, menjual tiket, menawarkan jasa desain, menyunting video, hingga membuka layanan pembelian barang untuk orang lain.

Baca :   Dari Talent Mapping hingga Seleksi Akhir: Perjalanan Panjang di Balik Satu Proses Executive Search

Cara kerja seperti ini punya kelebihan: Jam kerja dapat diatur sendiri;  bebas dari birokrasi organisasi.  bisa memiliki beberapa sumber pemasukan sekaligus; bebas menentukan siapa klien yang mau dilayani; dan punya ruang untuk menekuni hal-hal yang memang disukai. Tak sedikit dari mereka kini tak lagi mengukur keberhasilan dari jabatan semata. Tolak ukur kesuksesan bergeser pada tingkat kemandirian, kualitas hidup, dan potensi pendapatan.

Janji Manis Perusahaan Kian Hambar

Di sisi lain, citra  korporasi juga sedang bermasalah di sebagian kalangan generasi muda. Dahulu, posisi tetap di perusahaan merupakan simbol gengsi sekaligus jaminan masa depan. Akan tetapi, anak-anak muda kini sering menyaksikan gelombang pemutusan hubungan kerja, perombakan struktur organisasi, dan ketidakpastian ekonomi yang menerpa perusahaan-perusahaan raksasa sekalipun. Jika rasa aman bekerja tidak terjamin, nilai psikologis status karyawan otomatis merosot.

Dari sudut pandang sebagian generasi Z, bekerja di korporasi identik dengan jadwal kerja yang kaku, sedikitnya kelonggaran dalam bekerja, kenaikan gaji yang tak signifikan, birokrasi dan pengambilan keputusan yang berbelit-belit, dan manajemen karier yang sarat dengan politik internal.

Sementara itu, pekerjaan kasual acap memberi kepuasan finansial secara lebih instan. Bayangkan lagi momen konser akbar The Script atau BTS. Permintaan terhadap cenderamata resmi meroket. Orang-orang yang sigap membuka jasa titip beli bisa mengantongi laba besar hanya dalam dua hari, karena membantu penggemar memperoleh barang edisi terbatas. Memang, pemasukan jenis ini sifatnya musiman, bukan lanjutan. Namun, hal ini memperkuat keyakinan bahwa mencari uang tidak lagi harus bergantung pada pekerjaan tetap di kantor.

Antara Uang, Karier, dan Gaya Hidup

Kendati demikian, kita perlu membedakan antara sekadar mengumpulkan pendapatan dengan membangun fondasi karier.

Baca :   Kekuatan Diam di Balik Layar Organisasi

Peluang kasual memang bisa mendatangkan banyak uang dalam waktu singkat. Meski demikian,  Peluang macam ini hanya memberi sedikit modal untuk tumbuh dalam jangka panjang. Bekerja di korporasi, betapapun tidak sempurnanya, menyimpan aset tak kasatmata yang nilainya amat besar. Contohnya adalah pelatihan keterampilan yang sistematis, mentoring dan coaching dari senior, kesempatan memimpin tim, kolaborasi antardivisi, keterpaparan pada problem bisnis yang kompleks; jejaring yang luas; dan reputasi. Semuanya penting  bagi pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi.

Mungkin seorang profesional muda bisa mendapat lebih banyak uang dari jasa pembelian barang selama beberapa pekan konser dibanding gaji bulan pertamanya sebagai staf administrasi. Namun, untuk bisa mengelola proyek berskala besar, memimpin tim lintas divisi, berunding dengan mitra asing, atau menyusun strategi bisnis, biasanya dibutuhkan pengalaman organisasional yang sulit didapat dari pekerjaan lepas.

Bagi banyak Generasi Z, gaya hidup turut dipertimbangkan tatkala mengambil  keputusan penting. Banyak pekerja Gen Z lebih mendahulukan pengalaman dibandingkan prestise jabatan. Mereka menjunjung tinggi kebebasan bepergian, hobi, kesehatan mental, serta jadwal yang lentur. Pekerjaan kasual jelas lebih cocok dengan preferensi semacam ini.

 

Sebaliknya, dunia korporasi, terutama yang masih menerapkan aturan kehadiran ketat atau ekspektasi lembur yang tak wajar, sering dianggap tidak selaras dengan gaya hidup yang mereka dambakan.

Bukan berarti mereka miskin etos kerja atau berkomitmen rendah. Ini semata-mata mencerminkan adanya perubahan cara pandang tentang bagaimana seharusnya pekerjaan dan kehidupan berjalan beriringan. Generasi sebelumnya terbiasa mengatur hidup sedemikian rupa sehingga pas dengan tuntutan pekerjaan. Sementara Gen Z justru berharap pekerjaanlah yang bisa menyesuaikan dengan ritme kehidupan mereka.

Akankah Mereka Balik Lagi ke Kantor?

Bisa saja, tetapi mungkin bukan dengan cara yang dibayangkan perusahaan. Saat usia bertambah, skala prioritas finansial mulai bergeser. Tanggung jawab pernikahan, kehadiran anak, keinginan memiliki rumah, biaya kesehatan, dan perencanaan keuangan jangka panjang membuat mereka mulai mendambakan penghasilan tetap serta jaminan hari tua yang lebih pasti. Di fase inilah, mereka mulai melirik lagi keunggulan pekerjaan korporat yang dulu sering disepelekan, misalnya asuransi kesehatan, jaminan hari tua, gaji tiap bulan, kesempatan mengembangkan diri secara profesional, dan jenjang karier yang jelas.

Baca :   Lebih dari Sekadar CV: Cara Executive Search Membaca Karakter dan Kompetensi Pemimpin Masa Depan

Namun, jangan harap mereka mau kembali ke perusahaan yang masih memakai cara-cara usang. Mereka akan lebih tertarik pada pemberi kerja yang mampu mengombinasikan stabilitas dengan keluwesan. Skema kerja hibrida, penugasan berbasis proyek, mobilitas internal, budaya belajar berkelanjutan, serta evaluasi kinerja yang berorientasi pada hasil akan menjadi nilai jual utama.

Pelajaran Bagi SDM

Adanya pilihan menjadi pekerja kasual tidak lantas berarti Gen Z sudah muak total dengan karier korporat. Mereka hanya sedang mempertanyakan ulang asumsi-asumsi lama seputar hubungan kerja. Karena itu, para praktisi SDM perlu merenungkan apakah organisasi menawarkan pengalaman belajar yang tidak mudah didapatkan di tempat lain? Apakah organisasi semata-mata memberikan tugas atau sudah sampai pada mengembangkan potensi karyawannya? Di samping itu,  sudahkah lingkungan kerja kita memberi ruang bagi karyawan untuk bertumbuh secara bermakna, bukan hanya menjalankan prosedur?

Jika sebuah organisasi gagal menjawab tantangan ini, mereka berisiko kehilangan individu berkualitas. Bukan karena soal gaji, melainkan karena pengalaman karier yang ditawarkan terasa kurang menggugah.

Artikel Terkait