|
||||||
.: PUBLICATIONS :. Articles |
Inovator Di Simpang Jalan Himawan Wijanarko* Saat ini Google merupakan mesin pencari paling populer di dunia, bagian dari Dow Jones Industrial Average (DJIA) dengan kapitalisasi pasar terbesar di Amerika Serikat pada tahun 2007. Keunggulan Google terletak pada kesederhanaan tampilannya, tidak seperti mesin pencari yang ada yang dipenuhi dengan iklan. Kemampuannya pun hebat, menampilkan hasil pencarian dengan tingkat relevansi yang tinggi. Google menjual iklan serta membangun sistem pelelangan dengan konsep pay-per-view dan pay-per-click. Iklan yang ditampilkan diasosiasikan dengan kata kunci pencarian. Sebuah praktek bisnis yang baru. Dengan inovasi ini, Google mengungguli mesin pencari yang telah ada. Padahal sebelumnya orang bertanya-tanya, bagaimana mungkin Google bertahan hidup dengan tampilannya yang sederhana itu. Inovasi Google memang sederhana, namun mampu menghasilkan tingkat kenyamanan yang tinggi bagi pengguna. Langkah ini acap lebih baik ketimbang memperbaiki kinerja produk-produk yang sudah mapan. Dalam bukunya, The Innovator’s Dilemma, Christensen membagi inovasi menjadi dua jenis, yaitu inovasi berkelanjutan (sustaining innovation) dan inovasi disruptif (disruptive innovation). Inovasi berkelanjutan dilakukan dengan melakukan perbaikan kinerja produk yang sudah ada. Jenis inovasi seperti ini sudah lazim dilakukan, terutama oleh perusahaan-perusahaan raksasa, serta menjadi alat mempertahankan kinerja dan keunggulan bersaing. Contohnya, Microsoft yang secara berkala melakukan inovasi untuk meningkatkan kinerja Windows. Sementasa inovasi disruptif adalah inovasi yang menghasilkan perubahan drastis bagi sebuah industri. Hasil inovasi disruptif ini dapat berupa sebuah produk baru yang memberi dimensi baru bagi produk yang sudah ada dalam industri, cara-cara yang benar-benar baru dalam memproduksi dan mendistribusikan produk, maupun cara yang benar-benar baru dalam memberikan layanan. Karakteristik inovasi disruptif ini adalah desain produk yang lebih sederhana, lebih murah, dan lebih nyaman digunakan ketimbang produk-produk yang sudah ada. Perusahaan-perusahaan besar yang telah mapan biasanya enggan memasuki pasar produk hasil inovasi disruptif ini, yang pada awal peluncurannya biasanya mentargetkan pasar lower-end dan bersifat spesifik serta hanya menghasilkan margin yang kecil. Namun seiring dengan bertambahnya pengalaman serta investasi yang memadai, perusahaan dengan strategi inovasi disruptif ini akan secara berkesinambungan memperbaiki kinerja produknya. Mereka akhirnya menggeser dominasi perusahaan-perusahaan mapan, karena mampu menghasilkan produk dengan biaya lebih rendah. Serentetan fakta mengatakan jika tidak menginvestasikan dananya bagi inovasi disruptif, cepat atau lambat perusahaan besar yang mapan dalam sebuah industri akan tercececer. Misalnya, dalam industri komputer. Dahulu IBM mendominasi pasar komputer mainframe. Kemudian tertinggal oleh mikrokomputer dengan teknologi yang lebih sederhana, yang dihasilkan oleh Digital Equipment Corporation (DEC). Namun munculnya desktop komputer personal (PC) menjadikan Apple sebagai pemenang. Babak berikutnya Apple kalah oleh Compaq, yang berinovasi menghasilkan portable PC. Jadi berhati-hatilah perusahaan mapan. Jangan menghadapi inovasi disruptif dengan cara terus-menerus mengembangkan inovasi berkelanjutan terhadap produk sukses. Langkah ini telah terbukti sebagai langkah yang keliru. Ingatlah produk hasil inovasi disruptif akan terus berkembang menjadi lebih efisien, lebih mudah digunakan, serta memiliki tingkat keandalan yang lebih tinggi. Perusahaan-perusahaan yang telah mapan perlu ”menoleh” untuk mengembangkan inovasi disruptif. Tujuannya agar dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang lebih kecil, dengan tetap mempertahankan bisnis intinya. Dengan kata lain, perusahaan perlu menelusuri kemungkinan memasuki pasar baru, yang boleh jadi berukuran lebih kecil dibandingkan pasar utamanya. Perusahaan-perusahaan ini juga tidak boleh berhenti melakukan pembelajaran dengan lebih bersikap toleran terhadap kesalahan dan kegagalan, tentu saja sampai batas-batas tertentu. * GM Strategic Services The Jakarta Consulting Group Pernah dimuat di Majalah Trust |
|